Beranda > MUQOWWIMAT NAFSIYAH ISLAMIYYAH > CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH (3)

CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH (3)

Malik dalam al-Muwatha, dengan sanad yang shahih, telah mengeluarkan hadits dari Muadz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah saw. Bersabda :

Allah berfirman, “Kecintaanku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karena-Ku, saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku.

Al-Bukhâri telah mengeluarkan hadits dari ‘Aisyah ra. Beliau berkata:

Aku tidak memahami kedua orang tuaku kecuali keduanya telah memeluk agama ini. Tidak ada satu hari pun yang berlalu pada kami kecuali di hari itu kami dikunjungi Rasulullah saw. pada pagi dan sore hari.” (al-Hadits)

Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa seorang mukmin yang mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar di dunia dan akhirat sesuai dengan kadar kemampuannya untuk itu. Pada hadits Mutafaq ‘alaih dari Anas dari Nabi saw., ia bersabda:

Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.

Dalam hadist Abdullah bin Amr riwayat Ibnu Huzaimah dalam kitab Shahih-nya, juga Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak, ia berkata; “Hadits ini shahih memenuhi syarat al-Bukhâri Muslim”, Rasulullah saw. bersabda:

Sebaik-baiknya orang-orang yang bersahabat di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada sahabatnya. Dan sebaik-baik orang yang bertetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada tetangganya.

Di antara tanda orang yang paling baik terhadap sahabatnya adalah senantiasa berusaha membantu kebutuhan saudaranya dan bersungguh-sungguh menghilangkan kesusahannya. Hal ini berdasarkan hadits Mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar, Rasulullah saw.
bersabda:

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak meninggalkannya bersama orang-orang (hal-hal) yang menyakitinya. Barangsiapa berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim, maka dengan hal itu Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.

Ath-Thabrâni telah mengeluarkan hadits melalui isnad yang hasan,dengan para perawi yang terpercaya, dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Allah tidak akan berhenti memenuhi kebutuhan seorang hamba selama ia berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya.

Disunahkan menemui orang yang dicintai dengan menampakan perkara yang disukainya untuk menggembirakannya. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam kitab ash-Shâgir dengan isnad hasan dari Anas, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa yang menemui saudaranya yang muslim dengan menampakan perkara yang disukainya karena ingin membahagiakannya, maka Allah akan memberikan kebahagiaan kepadanya di hari kiamat.

Begitu juga disunahkan seorang muslim menemui saudaranya dengan wajah yang berseri-seri. Hal ini didasarkan pada hadits yang telah diriwayatkan Imam Muslim dari Abû Dzar,
ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau sekedar bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.

Hadits riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih dari Jabir bin Abdillah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

Setiap kebaikan adalah shadaqah. Dan termasuk kebaikan adalah jika engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri; dan jika engkau menuangkan air dari ember timbamu pada bejana saudaramu.

Hadits yang telah diriwayatkan oleh Ahmad, Abû Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasâi dengan isnad hasan; diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dengan lafadz miliknya, ia berkata; …Abû Jara al-Hajimi telah menceritakan kepadaku, ia berkata; Aku mendatangi Rasulullah saw. dan aku berkata; Ya Rasulullah, sesungguhnya kami adalah suatu kaum dari penduduk pedalaman. Ajarkanlah kepada kami sesuatu yang dengannya Allah akan memberi manfaat kepada kami!, maka Rasulullah saw. bersabda:

Janganlah engkau menyepelekan kebaikan sedikit pun meski sekadar menuangkan air dari ember timbamu ke bejana orang yang meminta air, dan meski sekadar berbicara dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. Janganlah mengulurkan kain sarungmu karena hal itu termasuk kesombongan dan tidak disukai Allah. Apabila ada seseorang mencaci makimu dengan perkara yang ada pada dirimu, maka janganlah membalas dengan mencaci makinya dengan perkara yang ada pada dirinya. Karena pahalanya bagimu dan bencananya bagi orang yang mengatakannya.

Disunahkan seorang muslim memberikan hadiah kepada saudaranya, berdasarkan hadits Abû Hurairah yang dikeluarkan oleh al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad, Abû Ya’la dalam Musnad-nya, an-Nasâi dalam al-Kuna, dan Ibnu Abdil Bar dalam kitab at-Tamhîd. al-Iraqi berkata, “Hadits ini sanadnya baik.” Ibnu Hajar berkata dalam kitab al-Talkhish al-Habir, “Sanadnya hasan”; ia berkata Rasulullah saw bersabda:

Kalian harus saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.

Orang yang diberi hadiah disunahkan menerima hadiah yang diberi saudaranya dan membalasnya. Dasarnya adalah hadits ‘Aisyah riwayat al-Bukhâri, ia berkata:

Rasulullah saw. pernah menerima hadiah dan membalasnya.

Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abû Dawud, an-Nasâi, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa yang meminta perlindungan karena Allah, maka lindungilah ia. Dan barangsiapa meminta kepada kalian atas nama Allah, maka berilah ia. Dan barangsiapa meminta keamanan karena Allah, maka berikanlah keamanan kepadanya. Barangsiapa yang memberikan kebaikan kepada kalian, maka balaslah dengan yang setimpal. Apabila kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian mengetahui bahwa kalian telah membalasnya dengan sepadan.
Hadiah ini adalah hadiah di antara orang-orang yang bersaudara. Tidak ada kaitannya dengan hadiah dari rakyat kepada penguasa. Karena hadiah kepada penguasa diharamkan
sebagaimana halnya suap-menyuap. Termasuk memberikan balasan hadiah yang setimpal adalah jika seorang muslim mengatakan kepada saudaranya, “Jazakallah Khairan”, artinya semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, semoga Allah meridhai keduanya, dikatakan hadits ini hasan shahih; Rasulullah saw.
bersabda:

Barangsiapa diberi kebaikan kemudian ia berkata kepada orang yang memberi kebaikan, “Jazakallah Khairan” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka dia sungguh telah memberikan pujian yang sangat baik. Pujian adalah bersyukur, yaitu membalas suatu kebaikan yang diberikan orang lain. Khususnya bagi orang yang tidak bisa melakukan apapun kecuali memberikan pujian. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, dari Jabir, dari Nabi saw., beliau bersabda:

Barangsiapa diberi suatu kebaikan tapi ia tidak bisa memberikan kebaikan untuk membalasnya kecuali dengan pujian, maka berarti ia telah bersyukur (berterima kasih kepadanya). Barangsiapa yang menyembunyikan kebaikan (pujian)-nya untuk membalas kebaikan orang lain, maka ia telah mengingkari kebaikannya. Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan kebatilan, maka ia seperti orang yang memakai pakaian palsu.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s