Beranda > 2009 > Fatwa Kontroversi Ulama Mesir : Dilarang Mendengarkan Quran di Tempat Umum

Fatwa Kontroversi Ulama Mesir : Dilarang Mendengarkan Quran di Tempat Umum

Seorang ulama Mesir telah menjadi kontroversi pada minggu ini setelah ia mengeluarkan sebuah fatwa yang membatasi tempat-tempat bagi umat Islam boleh menyimak Al-Quran, namun fatwa terburu-buru tersebut ditolak oleh pemerintahan di Kairo.

Syaikh Jamal Quthb, mantan kepala komite fatwa di lembaga Sunni tertinggi dunia Al-Azhar, menyatakan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar lokal bahwa masyarakat tidak boleh mendengarkan pembacaan Quran selagi bekerja, di angkutan umum atau di toko-toko.

“Mendengarkan Al-Quran di tempat-tempat keramaian publik dan menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap Al-Quran,” katanya. “Orang-orang yang melakukan hal tersebut menunjukkan ketidak peduliannya kepada Al-Quran.”

Quthb berpendapat bahwa orang-orang yang mendengarkan Al-Quran sambil melakukan sesuatu yang lain tidak cukup berkonsentrasi mendengarkan Quran dan mungkin terganggu dengan kegiatan lain tersebut.

Fatwa atau maklumat keagamaan banyak yang menimbulkan kontroversi di kalangan ulama Al-Azhar dan Darul Ifta Mesir – lembaga resmi pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan fatwa, menolak fatwa tersebut.

Al-Quran dapat di dengarkan kapan saja dan di mana saja, apakah di tempat kerja, di jalan atau di angkutan umum, kata Dr Ahmed Al-Sayeh seorang profesor teologi di Universitas Al-Azhar.

“Mendengarkan Al-Quran di tempat umum tidak menyiratkan ketidak hormatan terhadap Al-Quran,” katanya kepada Al Arabiya. “Sebaliknya, justru mereka telah melakukan penghormatan terhadap Quran karena telah mendengarkan Quran di mana saja mereka ingin menyimak bacaan ayat-ayat suci Quran.”

Sayeh menambahkan bahwa mendengarkan Quran di tempat umum lebih baik daripada mendengarkan musik dan menambahkan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran akan menolong orang-orang untuk mempermudah belajar Al-Quran dan melembutkan hati.

Pendakwah Mesir – Khaled Al-Beheiri berpendapat bahwa mendengarkan Quran di manapun akan memberikan nilai-nilai spiritualitas bagi yang mendengarnya dan juga membantu mereka melewati hari-hari dan memberikan mereka keberuntungan dalam bekerja.

“Sedangkan Syaikh Quthb, dia adalah salah satu ulama besar yang pandangan tidak dapat diabaikan begitu saja, tetapi bukan berarti kita harus menerima fatwa ini.”

Meskipun menimbulkan keberatan dan kritikan dari para ulama lain, Quthb masih bersikukuh dengan fatwa yang ia keluarkan.

“Ketika dibacakan Al-Quran orang harus menyimaknya dengan penuh perhatian,” katanya kepada Al Arabiya. “Alih-alih memperhatikan kata-kata Al-Quran dan merenungkan maknanya, mereka hanya bermain dan tidak mendengarkan secara serius. Apakah begini sikap kita terhadap firman Allah?”

Quthb menunjukkan bahwa orang-orang di kendaraan umum biasanya cepat lelah dan bosan dan tidak memperhatikan makna ayat-ayat Quran yang mereka dengar. (eramuslim.com, 01/09/09)

Kategori:2009
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s