Arsip

Archive for the ‘MUQOWWIMAT NAFSIYAH ISLAMIYYAH’ Category

SABAR MENGHADAPI COBAAN DAN RIDHA TERHADAP QADHA (3)

Sabar yang sebenarnya adalah sabar yang telah dijadikan Allah sebagai buah dari ketakwaan. Allah berfirman: Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (TQS. Yusuf [12]: 90)

Sabar yang sebenarnya adalah mereka yang disertakan oleh Allah dengan para Mujahid. Allah berfirman: Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 146)

Sabar terhadap cobaan dan qadha adalah sesuatu yang akan menuntun menuju sikap konsisten, bukan sikap yang labil. Sabar yang akan mendorong untuk senantiasa berpegang teguh pada Kitab Allah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti ini adalah sabar yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya, bukan semakin jauh. Allah berfirman:

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
(TQS. al- Anbiya [21]: 87)

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran yang akan semakin memperkuat cita-cita dan akan mendekatkan ke jalan menuju surga, yaitu seperti kesabaran Bilal bin Rabah, Khabab, dan keluarga Yasir. Sebagiamana sabda Rasul saw.: Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.

Juga seperti kesabaran Khubaib dan Zaid. Ia berkata: Demi Allah, aku tidak suka Muhammad saw. ditimpa musibah walau hanya dengan duri, sementara aku selamat dengan keluargaku.

Juga seperti kesabaran orang-orang yang menghentikan orang yang dzalim tanpa merasa takut, di jalan Allah, terhadap cacian orang yang suka mencaci. Rasulullah saw. bersabda:

Tidak, demi Allah, kalian harus menghentikan orang yang dzalim, kalian harus membelokkan mereka (dari kedzaliman) menuju kebenaran, dan kalian harus menahan mereka dalam kebaikan atau Allah akan mengunci hati sebagian dari kalian disebabkan oleh sebagian yang lainnya dan Allah akan melaknat kalian sebagaimana telah melaknat Bani Israil.

Juga seperti kesabaran para sahabat yang diberkati, juga kesabaran para sahabat yang diboikot, dan para sahabat yang hijrah ke Habsyah; dan kesabaran para sahabat yang ditangkap karena berpegang pada perkataan mereka, “Tuhan kami adalah Allah”.

Kesabaran yang hakiki juga harus seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar pada saat memerangi kaum Musyrik, bangsa Persia, dan Romawi. Seperti kesabaran sahabat yang ditawan, yaitu kelompok Abdullah bin Abi Hudzafah…; juga kesabaran para mujahidin yang berani dan jujur.

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat melaksanakan amar makruf nahi munkar, dan tidak lemah meskipun dihadapkan kepada berbagai penindasan di jalan Allah. Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat menjadi tentara bersama pasukan kaum Muslim yang siap memerangi musuh-musuh Allah. Sabar yang sebenarnya adalah kesabaran yang sesuai dengan firman Allah:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orangorang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang memper-sekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 186)

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (TQS. Muhammad [47]: 31)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji`ûn”. Mereka itulah yang mendapat keber-katan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. al-Baqarah [2]: 155-157)

Iklan

SABAR MENGHADAPI COBAAN DAN RIDHA TERHADAP QADHA (2)

Ridha dan marah termasuk perbuatan manusia. Karena itu manusia akan diberi pahala atas perbuatannya dan akan disiksa atas kemarahannya. Sedangkan qadha sendiri tidak termasuk perbuatan manusia, sehingga manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban atas terjadinya qadha, sebab bukan termasuk perbuatannya. Tetapi ia tetap akan ditanya tentang ridha dan marahnya terhadap qadha, karena hal itu termasuk perbuatannya.
Allah berfirman: Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (TQS. an-Najm [53]: 39)

Qadha dari Allah ini akan menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang, dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya hadits dari Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahankesalahannya karena musibah itu, sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya.
(Mutafaq ‘alaih).

Hadits yang lain adalah dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih).

Hadits dari Abû Hurairah dan Abû Sa’id, dari Nabi saw., bersabda: Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih).

Dalam bab ini terdapat juga hadits senada dari Sa’ad, Muawiyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ummu al-Ala, Abû bakar, Abdurrahman bin zhar, al-Hasan, Anas, Syadad, dan Abû Ubaidah ra.; dengan sanad-sanad ada yang baik dan ada yang shahih. Semuanya sampai kepada Nabi saw. (hadits marfu), yang isinya menyatakan bahwa “setiap ujian akan menggugurnya kesalahan”.

Hadits dari ‘Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, maka pasti Allah dengan musibah itu akan mengangkat satu derajat untuknya dan menggugurkan satu kesalahan darinya.

Dalam riwayat lain dikatakan: Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya. Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhaannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Al lah. Banyak sekal i hadi ts yang menjelaskan batasan ini, di antaranya hadits riwayat Muslim dari Shuhaib, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

Sungguh mengagumkan urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali orang yang beriman.

Hadits riwayat al-Hâkim, ia menshahihkannya yang disepakati oleh adz-Dzahabi dari Abû Darda ra., ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai Isa!, sungguh aku akan mengi r im sua tu umat setel ahmu. J ika me reka mendapatkan perkara yang disukai, pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak disukai, mereka akan ikhlas menerimanya dan bersabar menghadapinya, padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu.” Isa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana itu bisa terjadi?” Allah berfirman, “Aku memberikan kepada merekasebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku.”

Hadits riwayat ath-Thabrâni dengan isnad yang sehat dari cacat, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang ditimpa musibah atas hartanya atau jiwanya, kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukan kepada manusia, maka Allah pasti akan mengampuninya.

Hadits riwayat al-Bukhâri dari Anas, ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Jika Aku menguji hambaku dengan dua mata yang buta, kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggati kedua (mata)nya tersebut dengan surga baginya.
Hadits riwayat al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad, dari Abû Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda: Seorang muslim yang tertusuk duri di dunia, ia ikhlas menerimanya, maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahnya di hari kiamat.

Pada pembahasan ini kita perlu menelaah kesabaran lebih dalam lagi, untuk menghilangkan kesalahpahaman pada sebagaian kaum Muslim tentang fakta dan makna sabar. Ada yang beranggapan, jika seseorang membatasi diri dan menjauhkan di r i dar i manus ia, meningga lkan kemunkaran dan para pelakunya; ia melihat keharamansudah merajalela, hukum-hukum Allah tidak diamalkan, dan jihad telah ditinggalkan.

Pada kondisi seperti ini, ia tidak mengambi sikap untuk mengha-dapinya, bahkan ia menjauh dan meninggalkan aktivitas nahi munkar; maka yang seperti ini oleh sebagian orang dianggap sebagai orang yang bersabar. Atau mereka memahami sabar sekadar menolak penindasan atas dirinya saja. Ia menghindari hal-hal yang mengakibatkan akan ditangkap oleh musuh-musuh Allah, sehingga ia tidak berani mengatakan kebenaran, tidak berani beramal untuk menggapai ridha Allah. Bahkan ia tetap diam, mengurung diri di tempat ibadah. Ia berkata tentang dirinya, “Aku adalah orang yang bersabar.”

Sabar seperti itu bukanlah sabar yang pelakunya dijanjikan surga oleh Allah Swt. seperti dalam firman-Nya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. az-Zumar [39]: 10)

Sikap seperti itu adalah kelemahan. Rasulullah saw. Telah meminta perlindungan kepada Allah dari sifat tersebut. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari sifat lemah, dan malas; dari sifat kikir, bingung, kesedihan, dilanda hutang, dan dari paksaan orangorang kuat. Sabar yang sebenarnya adalah ketika kita mengatakan yang hak dan melaksanakannya. Siap menanggung resiko penderitaan di jalan Allah karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran, tanpa berpaling, bersikap lemah, atau lunak sedikit pun.

SABAR MENGHADAPI COBAAN DAN RIDHA TERHADAP QADHA (1)

Allah berfirman:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orangorang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. al- Baqarah [2]: 214)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji`ûn” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. al- Baqarah [2]: 155-157)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orangorang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 186)

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. az-Zumar [39]: 10)

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (TQS. al-Baqarah [2]: 155)


Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu… (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 200)

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. az-Zumar [39]: 10)

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (TQS. asy-Syûra [42]: 43)

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (TQS. al-Baqarah [2]: 153)

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wajalla jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang sabar, maka dia berhak mendapatkan (pahala) kesabarannya. Dan barangsiapa marah, maka dia pun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya. (Telah dikeluarkan oleh Ahmad melalui jalur
Mahmud bin Labid)

Ahmad telah mengeluarkan dengan jalan Mus’ab bin Sa’id dari ayahnya, ia berkata, Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Rasulullah saw. bersabda: Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian generasi setelahnya, dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-henti ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun.

Dari Abû Malik al-Asy’ari ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
…Sabar adalah cahaya…
(HR. Muslim)

Dari Abû Sa’id al-Khudri ra., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Abû Yahya Suhaib bin Sinan ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: ……jika ia ditimpa dengan kesulitan, maka ia akan bersabar, dan kesabaran itu adalah kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Dari Anas ra., ia berkata; Suatu ketika Nabi saw. menghampiri seorang wanita yang menangis di dekat kuburan, kemudian Nabi bersabda, “Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata, “Engkau tidak tertimpa musibah seperti aku.” Wanita itu tidak mengenal Rasulullah saw. Kemudian dikatakan kepada wanita itu bahwa yang berkata tadi adalah Rasulullah saw. Wanita itu lalu mendatangi rumah Nabi saw. tapi ia tidak menemukan penjaga pintu, sehingga ia masuk ke rumah Nabi dan berkata, “Aku tidak mengenal engkau.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kesabaran itu pada saat pertama kali ditimpa musibah.” (Mutafaq ‘alaih)

Dari Abû Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman, “Seorang hamba yang Aku ambil kekasihnya dari penghuni dunia kemudian ia bersabar, maka tidak ada balasan apa pun baginya kecuali surga. (HR. al-Bukhâri)

Dari ‘Aisyah ra., ia bekata; aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang penyakit tha’ûn. Kemudian Rasulullah saw. memberitahukan kepadanya: Sesungguhnya tha’ûn itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kemudian Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka tidaklah seorang hamba yang tinggal di negerinya yang tengah terjangkit tha’ûn, lalu ia bersabar dan mengharap ridha Allah; ia meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali perkara yang telah ditetapkan Allah; kecuali ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang syahid. (HR. al-Bukhâri)

Dari Anas ra., ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila aku menguji hambaku dengan dua mata yang buta, kemudian ia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata)nya tersebut dengan surga baginya. (HR. al-Bukhâri)

Dari Atha Ibnu Abi Rabbah, ia berkata; telah berkata kepadaku Ibnu Abbas ra., apakah tidak perlu aku memperlihatkan kepadamu seorang wanita penghuni surga? Aku berkata, “Tentu saja sangat perlu.”; maka Ibnu Abbas berkata: Dia adalah wanita yang hitam ini. Ia datang kepada Nabi saw. Seraya berkata, “Ya Rasulullah!, Aku biasa terkena ayan dan auratku suk
tersingkap karenanya, maka berdoalah kepada Allah untukku.” Rasulullah saw. bersabda, “Jika engkau mau bersabar, maka bagimu surga. Tapi jika engkau mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.” Wanita itu berkata, “Aku akan bersabar saja. Tapi auratku suka tersingkap, maka berdoalah untukku agar auratku tidak tersingkap.” Kemudian Rasulullah saw. Berdoa untuknya.
(Mutafaq ‘alaih)

Dari Abdullah bin Abi Aufa ra.: Sesungguhnya Rasulullah saw. di sebagian waktunya ketika perang, beliau menunggu hingga matahari condong ke Barat. Kemudian beliau berdiri di hadapan kaum Muslim dan bersabda, “Wahai manusia, janganlah mengharap bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tapi jika kalian bertemu dengan musuh maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah bayang-bayang pedang.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Ya Allah, Dzat yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan, dan menghancurkan musuh; hancurkanlah mereka dan tolonglah kami untuk mengalahkan mereka.” (Mutafaq ‘alaih)

Itulah dalil-dalil tentang keharusan bersabar ketika mendapat ujian. Adapun dalil tentang kewajiban ridha menerima qadha adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan al- Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad, dan al-Hâkim, ia menshahihkan hadits ini. Adz-Dzahabi juga menyetujuinya, dengan lafadz hadits: Dan aku meminta kepada-Mu, ya Allah, bisa ridha setelah menerima qadha.
Syara’ telah memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadha, sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Abû Hurairah. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah ‘Arasy dan dari gudangnya surga, yaitu, “Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah”.
Allah berfirman, “Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.” (HR. al-Hâkim. Ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya, dan tidak tercatat adanya kecacatan, meski tidak dikeluarkan oleh al-Bukhâri dan Muslim.” Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini telah dikeluarkan oleh al-Hâkim dengan sanad yang kuat”).
Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram. Al-Qirafi menuturkan dalam ad-Dakhîrah adanya ijma (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah.
Yang dimaksud dengan ijma ini adalah ijma para Mujtahid. Lafadz ijmanya adalah “Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram berdasarkan ijma.” Al-Qirafi telah membedakan antara qadha dan al-Maqdhi. Beliau berkata, “Jika ada seorang yang diuji dengan suatu penyakit, kemudian ia merasa sakit sebagai resiko dari tabiat suatu penyakit, maka hal seperti ini tidak dipandang sebagai sikap tidak ridha terhadap qadha, melainkan disebut tidak ridha terhadap al-Maqdhi. Jika ia berkata, “Apa (gerangan) yang telah aku lakukan hingga aku ditimpa dengan musibah ini, dan apa dosaku. Padahal aku tidak layak mendapatkannya.” Maka yang seperti ini disebut tidak ridha terhadap qadha bukan terhadap al-Maqdhi.”

Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan oleh hadits dari Mahmud bin Lubaid (sebagaimana telah disebutkan) bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Ibnu Muflih berkata, “Isnad hadits ini baik”)

TAWAKAL DAN IKHLAS (2)

Adapun ikhlas dalam ketaatan adalah meninggalkan sikap riya. Ikhlas termasuk amal hati yang tidak bisa diketahui kecuali oleh seorang hamba dan Tuhannya. Terkadang urusan ikhlas ini samar dan tercampur baur bagi seorang hamba, hingga ia meneliti lebih lanjut dan bertanya-tanya pada dirinya, dan berulang-ulang berpikir kenapa ia melaksanakan ketaatan itu atau kenapa ia melibatkan dirinya dalam ketaatan. Jika ia menemukan bahwa dirinya melaksanakan ketaatan itu sematamata karena Allah, maka berarti ia telah menjadi orang yang ikhlas. Jika ia menemukan dirinya ternyata melaksanakan ketaatan karena tujuan duniawi tertentu, maka berarti ia telah menjadi orang yang riya. Nafsiyah (pola sikap) seperti ini membutuhkan penanganan secara serius, yang bisa jadi membutuhkan waktu yang lama.

Jika seseorang telah sampai pada martabat, di mana ia lebih suka menyembunyikan segala kebaikannya, maka hal itu menandakan dirinya telah ikhlas. Al-Quthubi berkata; al-Hasan pernah ditanya tentang ikhlas dan riya, kemudian ia berkata, “Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu.” Abû Yusuf berkata dalam al- Kharaj; Mas’ar telah memberitahukan kepadaku dari Sa’ad bin Ibrahim, ia berkata, “Mereka (para sahabat) menghampiri seorang laki-laki pada perang al-Qadisiyah. Laki-laki itu tangandan kakinya putus, ia sedang memeriksa pasukan seraya membacakan firman Allah:

Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (TQS. an-Nisa [4]: 69)

Seseorang bertanya kepada laki-laki itu, “Siapa engkau wahai hamba Allah?” Ia berkata, “Aku adalah seorang dari kaum Anshar. Laki-laki itu tidak mau menyebutkan namanya.”

Ikhlas hukumnya wajib. Dalilnya sangat banyak, baik dari al-Kitab maupun as-Sunah.

Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
(TQS. az-Zumar [39]: 2)

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik) (TQS. az-Zumar [39]: 3)
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (TQS. az-Zumar [39]: 11)
Katakanlah, “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (TQS. az-Zumar [39]: 14)

Ayat-ayat di atas merupakan seruan kepada Rasulullah saw., hanya saja sudah dimaklumi bahwa seruan kepada Rasulullah saw. Adalah juga seruan kepada umatnya. Adapun dalil wajibnya ikhlas dari as-Sunah adalah :

Hadits dari Abdullah bin Mas’ud riwayat at-Tirmidzi dan asy- Syafi’i dalam ar-Risalah dari Nabi saw., beliau bersabda: Allah akan menerangi orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia menyadarinya, menjaganya, dan menyampaikannya. Terkadang ada orang yang membawa pengetahuan kepada orang yang lebih tahu darinya. Ada tiga perkara yang menyebabkan hati seorang muslim tidak dirasuki sifat dengki, yaitu ikhlas beramal karena Allah, menasihati para pemimipin kaum Muslim, dan senantiasa ada dalam jama’ah al-muslimin. Karena dakwah akan menyelimuti dari belakang mereka.

Dalam pembahasan bab ikhlas ini terdapat pula hadits senada dari Zaid bin Tsabit riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.

Juga dari Jubair bin Muth’im riwayat Ibnu Majah dan al- Hâkim. Ia berkata, “Hadits ini shahih memenuhi syarat al-Bukhâri Muslim.” Juga dari Abû Sa’id al-Khudzri riwayat Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan al-Bazzâr dengan isnad yang hasan. Hadits ini dituturkan pula oleh as-Suyuthi dalam al-Azhâr al-Mutanâtsirah fi al-Ahâdits al-Mutawâtirah.

Hadist dari Ubay bin Ka’ab ra. riwayat Ahmad, ia berkata dalam al-Mukhtarah, isnadnya hasan; Rasulullah saw. bersabda: Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemegahan, keluhuran, pertolongan, dan keteguhan di muka bumi. Siapa saja dari umat ini yang melaksanakan amal akhirat untuk dunianya, maka kelak di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian apa pun.

Hadits dari Anas riwayat Ibnu Majah dan al-Hâkim, ia berkata hadits ini shahih memenuhi syarat al-Bukhâri Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang meninggalkan dunia ini (wafat) dengan membawa keikhlasan karena Allah Swt. saja, ia tidak menyekutukan Allah sedikit pun, ia melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini dengan membawa ridha Allah.

Hadits dari Abû Umamah al-Bahili riwayat an-Nasâi dan Abû:

Dawud, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridha Allah semata. (al-Mundziri berkata, “Isnadnya shahih”)

TAWAKAL DAN IKHLAS (1)

Ada beberapa perkara yang berkaitan dengan tawakal kepada Allah, yaitu:

Pertama: Tawakal berkaitan dengan masalah akidah. Yaitu meyakini Sang Pencipta, yaitu Allah, yang dijadikan tempat bersandar oleh setiap muslim ketika mencari kemanfaatan dan
menolak kemudharatan. Orang yang mengingkari perkara ini berarti dia kafir.

Kedua: Setiap hamba wajib bertawakal kepada Allah dalam segala urusannya. Tawakal ini termasuk aktivitas hati, sehingga jika seorang hamba mengucapkannya tapi tidak meyakini dengan hatinya, maka ia tidak dipandang sebagai orang yang bertawakal.

Ketiga: Jika seorang hamba mengingkari dalil-dalil wajibnya tawakal yang qath’i (pasti), maka ia telah menjadi orang kafir.

Keempat: Tawakal kepada Allah tidak identik dengan mengambil hukum kausalitas ketika beramal (al-akhdzu bil asbab). Keduanya adalah dua masalah yang berbeda. Dalil-dalilnya pun berbeda. Buktinya Rasulullah saw. senantiasa bertawakal kepada Allah dan pada saat yang sama beliau beramal dengan berpegang pada hukum kausalitas.

Beliau telah memerintahkan para sahabat agar melakukan kedua perkara tersebut, baik yang ada dalam al- Quran atau al-Hadits. Beliau telah menyiapkan kekuatan yang mampu dilakukan, seperti mengurug (menutup) sumur-sumur pada saat perang Badar dan menggali parit pada saat perang Khandak. Beliau pernah meminjam baju besi dari Sofwan untuk berperang. Beliau menyebarkan mata-mata, memutuskan air dari Khaibar, dan mencari informasi tentang kaum Quraisy ketika melakukan perjalanan untuk memutuhat Makkah. Beliau masuk Makkah dengan mengenakan baju besi. Beliau pun pernah mengangkat beberapa sahabat sebagai pengawal beliau sebelum turunnya Firman Allah:
Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (TQS. al- Mâidah [5]: 67)

Begitu pula aktivitas-aktivitas beliau lainnya ketika berada di Madinah setelah berdirinya Daulah. Adapun ketika di Makkah, beliau telah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyah. Beliau menerima perlindungan dari pamannya, Abû Thalib. Beliau tinggal di Syi’ib (lembah) selama masa pemboikotan. Pada malam hijrah, beliau memeritahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Beliau tidur di gua Tsur selama tiga hari. Beliau pun menyewa penunjuk jalan dari Bani Dail.

Semua itu menunjukkan bahwa beliau telah melakukan amal sesuai kaidah kausalitas. Tapi pada saat yang sama beliau pun tidak menafikan tawakal, karena tidak ada hubungan antara tawakal dengan menggunakan kaidah kausalitas ketika beramal. Mencampur-adukkan antara keduanya akan menjadikan tawakal hanya sekadar formalitas belaka yang tidak ada dampaknya dalam kehidupan.
Dalil-dalil tentang kewajiban bertawakal antara lain:

Firman Allah:
(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 173)

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati… (TQS. al-Furqân [25]: 58)

Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (TQS. at-Taubah [9]: 51)

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 159)

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (TQS. at-Thalâq [65]: 3)

Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. (TQS. Hûd [11]: 123)

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada- Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (TQS. at-Taubah [9]: 129)

Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (TQS. al-Anfâl [8]: 49)

Dan masih banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan wajibnya bertawakal.

Dari Ibnu Abbas ra., dalam hadits yang menceritakan tujuh puluh ribu golongan yang akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa terlebih dahulu, Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan praktek ruqyah, dan minta diruqyah, juga tidak melakukan praktek tathayyur dan meraka senantiasa bertawakal kepada Tuhan-nya. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Ketika bangun malam untuk bertahajjud suka membaca: ….Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada- Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal. (Mutafaq ‘alaih).

Dari Abû Bakar ra., ia berkata; ketika kami berdua sedang ada di gua Tsur, aku melihat kaki-kaki kaum Musyrik, dan mereka ada di atas kami. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, maka pasti ia akan melihat kita.” Kemudian Rasulullah bersabda: Wahai Abû Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang manusia, sementara Allah adalah yang ketiganya (untuk melindunginya,penj.). (Mutafaq ‘alaih)

Dari Ummi Salmah ra., sesungguhnya Nabi saw. ketika akan keluar dari rumah, beliau suka membaca: Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah… (HR. at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” an-Nawawi dalam Riyâdhus ash-Shâlihîn berkomentar, “Hadits ini shahih”).

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Jika seseorang akan keluar dari rumahnya kemudian membaca, “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuasaan Allah”; maka akan dikatakan kepadanya, “Cukup bagimu, engkau sungguh telah diberi kecukupan, engkau pasti akan diberi petunjuk dan engkau pasti dipelihara.” Kemudian ada dua setan yang bertemu dan berkata salah satunya kepada yang lain, “Bagaimana engkau bisa menggoda seorang yang telah diberi kecukupan, dipelihara, dan diberi petunjuk.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya. Ia berkata dalam al-Mukhtarah, “Hadits ini telah dikeluarkan oleh Abû Dawud dan an-Nasâi, Isnadnya shahih”)

Dari Umar bin al-Khathab bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagimana Allah telah memberikan rizki kepada burung. Burung itu pergi dengan perut kosong dan kembali ke sarangnya dengan perut penuh makanan. (HR. al-Hâkim; Ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya”, dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, dan dishahihkan oleh al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah).

KONSISTEN DALAM KEBENARAN (4)

Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud. (TQS. Fushilat [41]: 13)

Kemudian Utbah menahan mulut Rasulullah saw. dan memohon belas kasih Rasul saw. dengan sangat agar berhenti membacakan al-Quran. Utbah sejak saat itu tidak menemui keluarganya dan menahan diri dari mereka. Abû Jahal berkata, “Wahai kaum Quraisy!, demi Allah, kami tidak melihat Utbah kecuali telah keluar dari agama kita untuk memeluk agama Muhammad. Ia tertarik dengan makanan Muhammad. Semua itu tidak akan terjadi jika tidak ada kebutuhan yang menimpanya. Marilah kita berangkat bersama-sama menemuinya.” Mereka pun berangkat menemui Utbah. Abû Jahal berkata, “Wahai Utbah!, demi Allah, kami tidaktakut kecuali engkau memihak kepada Muhammad, dan engkau tertarik dengan urusan Muhammad. Jika engkau mempunyai kebutuhan, maka kami akan mengumpulkan harta kami untukmu yang bisa memberikan kecukupan kepadamu daripada makanan Muhammad.”
Mendengar hal itu Utbah marah dan bersumpah dengan nama Allah bahwa tidak akan berbicara dengan Muhammad selamanya.” Utbah berkata, “Kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang Quraisy yang paling banyak hartanya. Tetapi sungguh aku telah datang kepada Muhammad.” Kemudian Utbah menceritakan kisahnya kepada mereka hingga berkata, “Kemudian Muhammad menjawabku dengan sesuatu perkataan. Demi Allah, itu bukan sihir, syair, dan perdukunan; ia membacakan: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa Miim.
Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (TQS. Fushilat [41]: 1-3); hingga sampai pada ayat ketiga belas: Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Âd dan kaum Tsamud. (TQS. Fushilat [41]: 13)
Kemudian aku menahan mulutnya dan memohon kasih sayangnya dengan sangat untuk berhenti membaca al-Quran. Kalian sungguh telah mengetahui bahwa jika Muhammad mengatakan sesuatu, maka ia tidak akan dusta. Aku sangat khawatir akan turun siksa kepada kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Muin yang berbeda dengan Riwayat Ibnu Ishak dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurdzi, yang dalam riwayat itu terdapat Rawi yang majhul, dan diceritakan dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Mencaci-maki
Al-Bukhâri dan Muslim telah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf ia berkata; ketika kami bediri di barisan perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku, tiba-tiba aku melihat dua orang anak muda dari kaum Anshar. Aku berharap agar aku berada disamping keduanya. Kemudian salah seorang dari keduanya memegangku dan berkata, “Wahai paman!, Apakah engkau mengenal Abû jahal?” Aku berkata, “Ya, Apa keperluanmu kepadanya wahai anaku?” Ia berkata, “Aku mendapat kabar bahwa ia telah mencaci maki Rasulullah saw.

Demi Allah yang menggenggam jiwaku, apabila aku melihatnya maka tidak akan berpisah pakaianku dan pakaiannya hingga matilah yang paling cepat di antara kami.” Maka aku sangat kagum terhadap anak itu. Kemudian anak yang kedua pun memegangku dan berkata seperti yang pertama…. Al-Bukhâri dan Muslim juga telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah: Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (TQS. al-Isra’ [17]: 110) Ibnu Abbas berkata ayat ini diturunkan ketika Rasulullah saw.

Sedang dakwah secara sembunyi-sembunyi di Makkah. Rasulullah saw. Ketika shalat bersama para sahabat, suka mengeraskan suaranya ketika membaca al-Quran. Jika orang-orang musyrik mendengarnya, makamereka akan mencaci maki al-Quran, mencaci maki yang menurunkannya dan yang membawanya. Allah berfirman kepada nabi-Nya: Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (TQS. al-Isra’ [17]: 110)

Maksudnya, engkau jangan mengeraskan bacaan hingga didengar oleh orang-orang musyrik, akibatnya mereka akan mencaci maki al-Quran. Maksud dari firman Allah “wala tukhafit biha” adalah jangan menyembunyikan bacaan shalatmu dari sahabatmu, sehingga tidak bisa mereka dengar, Tapi carilah yang pertengahan di antara hal itu. (TQS. al-Isra’ [17]: 110)
Ahmad telah meriwayatkan dalam al-Musnad, para perawinya terpercaya, dari Abû Hurairah dari Nabi saw., beliau bersabda: Apakah kalian tidak melihat bagaimana Allah memalingkan dariku kutukan kaum Quraisy, dan caci maki mereka. Mereka memakimakiku sambil mencela, padahal aku adalah Muhammad. Dalam hadits Mutafaq ‘alaih, Ibnu Abbas berkata, ketika turun firman Allah: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (TQS. Asy-Syu’ara [26]: 214) Rasulullah saw. keluar hingga naik ke bukit Shafa, kemudian beteriak, “Hai selamat pagi!” Kaum Quraisy berkata, “Siapa yang berteriak itu?.” Mereka berkata, “Ia adalah Muhammad.”
Kemudian mereka berkumpul menujunya.
Beliau bersabda: Bagaiman pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa saat ini ada pasukan kuda yang keluar dari balik bukit ini, apakah kalian akan mempercayaiku? Mereka berkata, “Kami tidak pernah mengenalmu berdusta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian, bahwa di hadapanku ada siksa yang sangat keras.” Abû Lahab berkata, “Celaka engkau Muhammad, apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Kemudian turunlah firman Allah, surat al-Lahab [111]: 1, “Binasalah kedua tangan Abû Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Ath-Thabrâni telah mengeluarkan dari Manbats al-Azdi, ia berkata; Aku melihat Rasulullah saw. di masa jahiliyah, ia bersabda, “Wahai manusia, katakan “Tiada tuhan selain Allah”, pasti kalian berbahagia”.
Maka dari kaum Quraisy ada yang meludahi wajah Rasul saw. Ada yang menaburkan tanah ke wajahnya, dan ada yang mencaci maki hingga tengah hari. Kemudian ada seorang anak wanita yang datang kepada Rasulullah saw. membawa wadah yang cukup besar yang dipenuhi air, lalu beliau membasuh wajah dan kedua tangannya. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau jangan mengkhawatirkan bapakmu terbunuh atau dihinakan”. Manbat al-Azdi berkata, “Siapa anak kecil itu?” Orang-orang berkata, “Ia adalah Zainab anak Rasulullah saw.” Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini terdapat Manbats bin Mudrik, aku tidak mengenalnya, tapi perawi yang lainnya terpercaya.”

KONSISTEN DALAM KEBENARAN (3)

Pemboikotan
Ibnu Sa’ad telah meriwayatkan dalam ath-Thabaqat dari al-Waqidi… dari Ibnu Abbas, dan Abû Bakar bin Abdurrahman bin al-Haris bin Hisyam, dan Utsman bin Abi Sulaiman bin Jubair bin Muth’im, hadits sebagian mereka masuk kepada sebagian yang lain: … Orang Quraisy telah menulis surat kepada Bani Hasyim agar mereka tidak menikah, berjual-beli dan bergaul dengan kaum Quraisy… Mereka telah memutuskan bantuan barang dagangan dari Bani Hasyim. Bani Hasyim tidak keluar kecuali dari satu musim ke musim yang lain hingga ditimpa kepayahan dan terdengar suara tangisan anak-anak mereka dari balik lembah. Di antara orang Quraisy ada yang senang melihat hal itu dan ada yang tidak senang… Mereka tinggal di lembah itu selama tiga tahun… Adz- Dzahabi dalam at-Tarikh telah menceritakan kabar pemboikotan ini dari Musa bin Uqbah dari Az-Zuhri.

Mengolok-olok dan Mengejek
Ibnu Hisyam berkata dalam Sirah, Ibnu Ishaq berkata; Aku telah dikabari Yazid bin Ziad dari Muhammad bin Ka’ab al-Karzi, setibanya di Thaif, Rasulullah saw. pergi menemui beberapa penduduk Tsaqif. Mereka adalah para pemimpin dan tokoh-tokoh Tsaqif. Mereka ada tiga orang bersaudara… Kemudian Rasulullah saw. duduk bersama mereka dan mengajak kepada agama Allah. Rasulullah saw. menyampaikan kepada mereka tentang tujuan kedatangannya, yaitu mencari orang yang siap menolongnya, dan berjuang bersama beliau menghadapi siapa saja di antara kaumnya yang menentang beliau.

Salah seorang dari mereka berkata, “Aku siap mencabut kain Ka’bah dan membuangnya jika Allah memang mengutusmu sebagai Nabi.” Yang lain berkata, “Apakah Allah tidak mendapatkan yang lain untuk diutus selain engkau?” …Kemudian mereka memprovokasi orang-orang pandir dan hamba sahaya untuk mencaci-maki Rasulullah saw. dan meneriakinya dengan kata-kata kotor… Ibnu Hibban mengeluarkan dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Amr, ia berkata; …Aku telah hadir bersama mereka dan para pembesarnya berkumpul di al-Hijr, kemudian mereka bercerita tentang Rasulullah saw. dan berkata; Kami tidak melihat perlakuandari laki-laki itu yang menjadikan kami tetap sabar atasnya. Ia menganggap bodoh mimpi-mimpi (hayalan) kami, mencaci maki nenek moyang kami, dan mengejek agama kami; memisahkan jama’ah kami dan memaki-maki Tuhan kami. Kami telah bersabar darinya atas perkara yang agung (serius), atau sebagaimana yang biasanya mereka katakan. Ketika mereka masih bergelimang dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba datanglah Rasulullah saw. Beliau tampak berjalan hingga menghampiri tiang (Ka’bah). Beliau melewati mereka sambil thawaf di Baitullah.

Ketika beliau melewati mereka, mereka mengejek dengan beberapa perkataan. Abdullah bin Amr berkata; Aku mengenali pengaruh ejekan itu di wajah beliau, kemudian beliau berlalu. Ketika beliau melewati mereka kedua kalinya, mereka kembali mengejek lagi seperti yang pertama kali, dan aku mengenali pengaruh ejekan itu di wajah beliau, dan beliau berlalu. Kemudian melewati mereka ketiga kalinya, mereka pun kembali mengejeknya seperti tadi. Kemudian beliau bersabda: Apakah kalian mendengar wahai kaum Quraisy! Ingat, demi Allah yang menggenggam jiwa Muhammad, sungguh aku datang kepada kalian untuk memenggal (kalian)….”

Memutuskan Hubungan antara Pimpinan dan Pengikut
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Sa’ad, ia berkata; kami pernah bersama Nabi saw., jumlah kami ada enam orang. Kemudian kaum Musyrik berkata kepada Nabi, “Usirlah mereka itu agar tidak lancang kepada kami.” Sa’ad berkata; Sahabat Rasul saw. pada saat itu adalah aku, Ibnu Mas’ud, seorang lelaki dari Hudzail, Bilal, dan dua orang lelaki yang tidak aku kenali namanya.
Kemudian ucapan kaum Musyrik itu mempengaruhi diri Nabi saw., dengan izin Allah. Sehingga Nabi saw. berbicara di dalam hatinya, kemudian turunlah Firman Allah: Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. (TQS. al-An’am[6]: 52)

Tawar-menawar antara Mabda (Ideologi) dengan Tahta, Harta, dan Wanita
Abû Ya’la dalam al-Musnad dan Ibnu Muin dalam Tarikhnya telah meriwayatkan dengan isnad yang perawinya terpercaya selain al-Ajlah, tapi kemudian ia menjadi orang yang terpercaya. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata; Abû Jahal dan segolongan pembesar Quraisy berkata, “Sungguh telah menyebar pada kita urusan Muhammad. Karena itu carilah seorang lelaki yang sangat mengetahui sihir, perdukunan, dan syair. Kemudian ajaklah ia berbicara dan suruh ia mendatangkan penjelasan kepada kami tentang urusan Muhammad.” Maka Utbah berkata, “Aku telah mendengar perkataan tukang sihir, dukun, dan para penyair. Aku mempunyai pengetahuan tentang semua itu, dan tidak akan samar bagi kami jika urusan Muhammad adalah termasuk sihir, perdukunan, dan syair.” Kemudian Utbah mendatangi Nabi saw., dan berkata, “Wahai Muhammad!, siapa yang lebih baik, apakah engkau atau kah Hasyim? Siapakah yang lebih baik, apakah engkau atau Abdul Muthalib? Siapakah yang lebih baik, apakah engkau atau Abdullah?” Maka Nabi tidak menjawabnya. Utbah berkata, “Lalu kenapa engkau mencaci tuhan-tuhan kami dan menyesatkan nenek moyang kami? Jika engkau melakukan hal itu karena ingin tahta, maka kami akan mengikat panji-panji kami kepada engkausehingga engkau jadi pemimpin kami; jika engkau inginkan wanita maka kami akan menikahkan engkau dengan sepuluh wanita yang bisa engkau pilih dari wanita Quraisy sekehendakmu; dan jika engkau menginginkan harta, maka kami akan mengumpulkan har ta-har ta kami untukmu yang bisa mencukupimu dan keturunanmu.” Rasulullah saw. diam tidak berbicara. Ketika Utbah selesai bicara, Rasulullah saw. membaca: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hâ Mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (TQS. Fushilat [41]: 1-3); hingga sampai ayat ketiga belas: